Umaru Umaru Author
Title: Hubungan Sosiologi dengan Individu dalam Masyarakat
Author: Umaru
Rating 5 of 5 Des:
APA HUBUNGAN DENGAN SAYA Maksud penulis membuat tulisan ini bukan ingin membanggakan akan ilmu yang tergolong muda ini. Bukan juga mengajak ...

APA HUBUNGAN DENGAN SAYA


Maksud penulis membuat tulisan ini bukan ingin membanggakan akan ilmu yang tergolong muda ini. Bukan juga mengajak semua orang untuk beranjak mengambil jurusan ini. Namun hanya ingin berbagi pengalaman dan pengetahuan apa yang seharusnya semua orang tahu. Kebanyakan orang menganggap ilmu sosial adalah ilmu kedua, ilmu yang akan dipelajari setelah ilmu alam, atau hanya sebuah studi pendamping. Penulis ingin menyampaikan bahwa semua ilmu pengetahuan memiliki spesialisasi masing-masing. Dan yang akan dibahas disini adalah Sosiologi dan Kita (masyarakat).




Sebagai makhluk sosial yang tidak bisa hidup sendiri. Sebelum manusia lahir atau terbentuk pasti ada manusia lainnya (orang tua). Semua pengetahuan seseorang pertama kali didapatkan dari apa yang kelima panca indra rasakan. Bahkan produk hukum tidak akan berlaku jika salah satunya tidak ada, misalnya di suatu negara ada hukum untuk para wisatawan asing, sedangkan dari negara itu sampai saat ini tidak ada satupun wisatawan asing yang berkunjung ke negara tersebut, maka secara logika bagaimana hukum tersebut dapat berlaku jika subyek dari hukum itu sendiri tidak ada.



Masyarakat.


Menjadi masyarakat ternyata tidak terlalu rumit seperti yang dibayangkan, seseorang akan berstatus masyarakat jika berada di suatu tempat yang terdapat lebih dari dua orang yang tinggal di suatu daerah. Anak yang baru lahir akan berstatus masyarakat di suatu daerah, tanpa peduli anak tersebut telah memiliki akta kelahiran atau tidak. Dimasa depan, anak tersebut lambat laun akan mengerti apa dan kenapa Ia dilahirkan dan menjadi bagian dari masyarakat.


Hubungan saya (masyarakat) dengan sosiologi adalah seseorang bisa menjadi subyek atau obyek atau keduanya didalam masyarakat. Contoh menjadi subyek (pelaku) adalah pelajar yang mempelajari berbagai pelajaran di sekolah, atau guru yang mengajar di sekolah adalah subyek sosial. Sedangkan obyek sosial adalah pelajar yang mau tidak mau harus mematuhi semua aturan sekolah, seperti pakaian seragam, tidak boleh telat, disiplin, dan sebagainya. Dalam contoh ini pelajar menjadi subyek dan obyek. Disisi lain ada juga pembanding antara subyek dan obyek. Pengusaha tempe adalah subyek, sedangkan pembeli tempe adalah obyek.


BINGUNG? Selamat Anda berpikir. Disini akan dijelaskan bahwa apabila seseorang mempelajari sosiologi, Ia akan tahu statusnya sebagai subyek atau obyek, bermanfaat atau tidak jika Ia melakukannya. Sadarkah Anda bahwa pelajar di Indonesia cenderung menjadi obyek daripada menjadi subyek. Dalam benak kita, pelajar adalah orang yang mempelajari banyak hal yang akan menjadi orang yang lebih baik lagi dengan menggunakan pengetahuan yang dipelajari sewaktu sekolah. Seperti pelajar SMK mekanika akan dengan mudah membuat suatu mesin baru atau memperbaiki mesin yang rusak. Namun pada kenyataannya, pelajar tersebut sering dijadikan sebagai obyek untuk kepentingan orang lain, seperti adanya tenaga teknis handal dan murah dari lulusan SMK. Jarang sekali lulusan SMK yang dapat berkarya bebas menggunakan peralatan dan pengetahuan yang Ia miliki untuk membuat suatu inovasi.


Contoh lain juga, masih seputaran pelajar. Pelajar di Indonesia yang harus mematuhi segala peraturan di sekolah dan pemerintah pusat. Pelajar mau tidak mau harus berpakaian seragam, entah orang tua mereka mampu atau tidak menyediakan kebutuhan itu. Pelajar harus lulus dalam Ujian Nasional dengan kriteria yang cukup tinggi di beberapa mata pelajaran, entah pelajar itu mampu atau tidak. Fungsi manifes atau yang tampak adalah pelajar menjadi pribadi yang disiplin dengan aturan tersebut, namun disisi lain yang tersembunyi (laten) mereka sering dibebani dengan aturan tersebut (bahkan orang tua atau wali). Suatu doktrin yang cerdas untuk orang yang cerdas. Setelah lulus banyak orang yang berharap dengan sekolah akan menjadi pribadi yang lebih cerdas dan memiliki kehidupan yang lebih baik, tapi disisi lain, dengan banyaknya orang terpelajar maka akan semakin tinggi persaingan yang ada, orang yang kurang mampu bersaing akan tersingkir dan menjadi pengangguran terpelajar. Ada yang beranggapan sekolah untuk mencari pekerjaan yang lebih baik, tapi sedikit orang lainnya beranggapan sekolah menjadi penghambat kehidupan mandiri dalam membangun lapangan pekerjaan.


Sebagai masyarakat, kita yang menentukan sendiri mau jadi apa kita. Sebagai subyek yang melakukan sesuatu atau sebagai obyek yang dilakukan sesuatu. Dengan mempelajari sosiologi secara umum, paling tidak seseorang mengetahui posisi dimana Ia saat ini.


Mungkin pembahasan Kapitalis dan proletar akan sedikit memperluas pemikiran. Kapitalis adalah golongan masyarakat yang menjadi subyek, mereka mampu mengendalikan dan memanfaatkan situasi yang ada. Proletar adalah golongan masyarakat yang menjadi obyek, mereka cenderung turut serta dalam setiap perubahan zaman tanpa sadar mereka yang mengendalikan atau mereka yang dikendalikan. Contoh kapitalis adalah pemilik perusahaan Y. Sedangkan Proletar pekerja perusahaan Y. Dengan kemampuan yang dimiliki Y, Y dapat dengan mudah mengubah peraturan atau kebijakan perusahaan yang Ia pegang, sedangkan pekerja mau tidak mau harus patuh dengan kebijakan tersebut. Namun lambat laun pekerja sadar bahwa Ia juga memiliki kekuatan untuk mengendalikan keadaan. Sekarang ini kita mengenal dengan serikat kerja. Dengan bersatunya para pekerja untuk mengubah kebijakan yang dirasa tidak menguntungkan mereka, maka pemilik perusahaan Y juga mau tidak mau harus mematuhi serikat pekerja jika tidak mau perusahaan tersebut rugi atau bahkan hancur.


Dari contoh tersebut kita dapat melihat sisi umum dari kedua golongan. Tidak peduli dari golongan manapun (kapitalis atau proletar), bagi yang tidak menyadari bahwa mereka subyek atau obyek di suatu masyarakat akan mendapatkan perlakuan yang kurang atau bahkan tidak menguntungkan. Sama seperti keadaan proletar yang tidak sadar menjadi obyek perusahaan Y akan berangsur-angsur memberikan keuntungan bagi kapitalis. Jika seseorang dapat mengetahui keadaan ini, maka menjadi masyarakat subyek atau obyek adalah pilihan.


Jadi sudah tahu apa hubungan kita (masyarakat) dengan sosiologi. Kalau masih belum paham ayo cari tahu lagi dengan menghubungkan teori yang ada di sosiologi dengan realitas yang ada saat ini. Jangan terlalu semangat untuk membuat penalaran umum, karena sosiologi tidak bersifat hitam putih atau non etis, maksudnya tidak ada yang benar atau yang salah, yang ada hanyalah suatu sebab dan akibat dan keyakinan dari tiap-tiap individu.

About Author

Advertisement

Posting Komentar

Ayo berkomentar dengan Bahasa yang Baik dan Sopan :)

 
Top